SPENEX ke-6: Ketika Klinisi dan Pendidik Duduk di Meja yang Sama

August 2, 2026 by
Dandy Aulya, S.Psi

Selama enam tahun berturut-turut, satu pertanyaan terus menggerakkan Special Education and Neuropsychiatry Expo and Scientific Meeting (SPENEX): bagaimana jika para klinisi, peneliti, dan pendidik berhenti bekerja sendiri-sendiri, dan mulai berpikir bersama?

SPENEX kini telah memasuki penyelenggaraan yang ke-6, digelar pada 17–19 Juli 2026 di Four Points Hotel Bekasi dengan tema "From Couples to Generations: The Neuroscience of Family Resilience". Diselenggarakan oleh Klinik Utama Talenta Center bekerja sama dengan berbagai organisasi profesional terkemuka — termasuk Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) — SPENEX telah berkembang menjadi konferensi lintas disiplin terkemuka di Indonesia. Fokusnya menyatukan empat bidang yang selama ini kerap berjalan terpisah: perkembangan anak, pendidikan khusus, kesehatan mental, dan neuroscience.

Dibuka bersama, lintas institusi

Rangkaian acara dibuka dengan sambutan Ketua Yayasan Bina Talenta, drg. Yaya Aria Santosa, MARS, Ph.D, dilanjutkan Ketua PP-PDSKJI, dr. Agung Frijanto, Sp.KJ, Subsp. RSP(K), M.H., dan Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, M.P.H.

Pembukaan secara simbolis ditandai penekanan tombol virtual bersama oleh drg. Yaya Aria Santosa, dr. Agung Frijanto, dr. Imran Pambudi, dr. Isa Multazam Noor, serta Pak Jamil sebagai perwakilan Dinas Kesehatan Kota Bekasi — sebuah gambaran ringkas tentang siapa saja yang perlu terlibat ketika berbicara tentang kesehatan jiwa keluarga.

Enam tahun membangun ruang temu

Sejak awal, SPENEX dirancang bukan sekadar sebagai ajang presentasi ilmiah, melainkan sebagai ruang temu. Di sinilah peneliti, klinisi, pendidik, dan tenaga profesional kesehatan bertukar pengetahuan, membangun kolaborasi, serta mendorong penerapan praktik berbasis bukti — melalui presentasi ilmiah, pelatihan profesional, dan diskusi multidisiplin.

Yang membuat SPENEX berbeda justru terletak pada keberaniannya mengundang suara-suara di luar ruang klinik. Bagi Ruzi, inilah inti acara ini:

"SPENEX menantang cara pandang lama di kalangan klinisi dengan menyatukan beragam latar belakang profesi — terutama para guru dan pendidik, yang selama ini jarang mendapat kursi di meja diskusi."

Semangat kolaborasi itu diamini oleh Darrel, yang melihat SPENEX sebagai jembatan antarprofesi:

"SPENEX mempertemukan para profesional dan mendorong mereka untuk benar-benar bekerja bersama, bukan sekadar berbagi ruangan."

Relevan dengan zaman

Kesehatan mental adalah bidang yang bergerak cepat. Bukti baru, pendekatan baru, dan tantangan baru terus bermunculan. Karena itu, harapan dr. H. Isa Multazam Noor, Sp.KJ, Subsp. AR(K), M.Sc terhadap SPENEX terdengar sederhana namun mendasar:

"Harapan saya, SPENEX hadir secara konsisten sebagai sumber pembaruan ilmu kesehatan mental yang selalu selaras dengan perkembangan zaman."

Lebih dari sekadar konferensi

Enam penyelenggaraan yang sukses menegaskan satu hal: perkembangan anak dan kesehatan mental tidak pernah menjadi tanggung jawab satu profesi saja. Ketika seorang psikiater, seorang psikolog, dan seorang guru duduk di meja yang sama, yang paling diuntungkan adalah mereka yang kita layani — anak-anak, keluarga, dan masyarakat luas.

SPENEX ke-6 melanjutkan komitmen itu: menjaga ilmu tetap hidup, praktik tetap berbasis bukti, dan kolaborasi tetap menjadi cara kerja utama. Sampai jumpa di ruang temu berikutnya.

Special Education and Neuropsychiatry Expo and Scientific Meeting (SPENEX) diselenggarakan oleh Klinik Utama Talenta Center bekerja sama dengan berbagai organisasi profesi kesehatan dan pendidikan di Indonesia. Informasi lengkap: spenex.talentacenter.sch.id